//
you're reading...
Pendidikan

Evaluasi Pembelajaran “VALIDITAS”

VALIDITAS

Suatu alat evaluasi disebut valid jika dapat mengevaluasi dengan tepat sesuatu yang dievaluasi tersebut. Dengan kata lain validitas dari suatu alat evaluasi harus ditinjau dari karakteristik tertentu. Oleh karena itu untuk menentukan validitas suatu alat evaluasi hendaknya dilihat dari macam-macam validitas yang dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis yang berdasarkan pelaksanaannya, yaitu :

  1. Validitas Teoritik

Validitas Teoritik atau validitas logik adalah validitas alat evaluasi yang dilakukan berdasarkan pertimbangan teoritik atau logika. Agar hasil dari pertimbangan sesuai dengan keinginan maka sebaiknya dilakukan oleh para ahli yang berpengalaman dalam bidangnya. Jenis dari Validitas Teoritik ada 3, antara lain :

  1. Validitas Isi (content validity)

Validitas isi suatu alat evaluasi artinya ketepatan alat tersebut ditinjau dari segi materi yang dievaluasikan, seperti materi/bahan yang dipakai sebagai alat evaluasi juga merupakan sampel representattif dari pengetahuan yang harus dikuasai. Dengan menggunakan kisi-kisi dan format penulisan soal, keseluruhan soal yang disajikan dalam alat evaluasi akan merupakan sampel yang representatif dari pengetahuan siswa yang akan diuji. Apabila soal evaluasi tersusun dari bahan-bahan diluar materi yang diajarkan maka soal tersebut tidak valid menurut validitas isi. Agar soal yang dibuat memiliki validitas isi yang baik, haruslah memperhatikan hal-hal berikut ini, yaitu :

  1. Bahan evaluasi merupakan sampel representatif untuk mengukur seberapa jauh tujuan dapat tercapai
  2. Titik berat bahan yang diujikan harus berimbang dengan titik berat bahan dalam kurikulum
  3. Untuk mengerjakan evaluasi tidak diperlukan pengetahuan bahan yang belum diajarkan.
  4. Validitas Muka (face validity)

Validitas muka suatu alat evaluasi artinya ketepatan susunan kalimat/kata-kata dalam soal sehingga jelas pengertiannya/tidak menimbulkan tafsiran lain. Apabila suatu soal tidak dapat/sulit dipahami maksudnya sehingga testi tidak bisa menjawab dengan baik, berarti validitas mukanya tidak baik. Pada umumnya alat evaluasi yang mempunyai validitas isi yang baik maka validitas mukanya pun baik namun tidak berlaku untuk sebaliknya.

  1. Validitas Konstruksi Psikologik (constract validity)

Validitas konstruksi psikologik berkenaan dengan aspek sikap, kepribadian, motivasi, minat dan bakat. Alat evaluasi yang berkenaan dengan aspek-aspek ini hendaknya tidak menyinggung emosi responden yang ada kaitannya dengan evaluasi tersebut. Pendapat lain menyatakan bahwa validitas konstruksi psikologik merupakan validitas tersusun, artinya alat evaluasi harus dapat dengan tepat mengevaluasikan karakteristik tertentu yang akan dievaluasi. Jadi validitas konstruksi psikologik dapat dikatakan sebagai kesesuaian materi dalam alat evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi yang bersangkutan.

2.  Validitas kriterium (criterion related validity)

Validitas kriterium berdasarkan kriteria aatu validitas yang ditinjau dalam hubungannya dengan kriterium tertentu.  Validitas ini diperoleh dengan melalui observasi atau pengalaman yang bersifat empirik, kriterium itudipergunakan untuk menentukan tinggi rendahnya koefisien validitas alat evaluasi yang dibuat melalui perhitungan korelasi.

Ada 2 macam validitas yang termasuk ke dalam validitas kriterium adalah

1).   Validitas banding / validitas bersama (concurrent validity)

Validitas ini kriteriumnya terdapat pada waktu yang bersamaan dengan alat evaluasi yang diselidiki validitasnya atau hampir sama dan dilakukan terhadap subjek yang sama.

2).   Validitas ramal (predictive validity)

Memprediksi artinya meramalkan berkenaan dengan hal yang akan datang berdasarkan kondisi yang  ada sekarang.

Sebuah alat evaluasi dikatakan memiliki validitas prediksi yang baik jika ia mempunyai kemampuan meramalkan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Contoh:

a.  tes masuk perguruan tinggi negeri ( UMPTN) atau yang dulu dikenal dengan sipemaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru)    adalah sebuah tes yang diperkirakan mampu meramalkan keberhasilan peserta tes dalam mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi yang dimasukinya. Calon yang lulus tes diharapakan mencerminkan tinggi rendahnya kemampuan mengikuti perkuliahan tersebut.

b.  sistem penerimaan siswa baru di SMP dan SMA dengan menggunakan nilai ebatanas murni (NEM)

Untuk menentukan validitas prediksi tersebut digunakan alat pembanding berupa nilai–nilai yang diperoleh dari hasil perkuliahan. Jika nilai tes masuk dan hasil perkuliahan berkorelasi tinggi maka validitas prediksi tes masuk tersebut tinggi. Sebaliknya jika berkorelasi rendah atau sama sekali tidak berkorelasi bahkan berkorelasi negatif maka validitas prediksi alat tersebut jelek.

Koefisien validitas

Cara menentukan tingkat (indeks) validitas kriterium ini adalah dengan menghitung koefisien korelasi antara alat evaluasi yang telah dilaksanakan dan diasumsikan telah memiliki validitas yang tinggi (baik), sehingga hasil evaluasi yang digunakan sebagai kriterium itu telah mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Menurut John W. Best dalam bukunya Research in education, suatu alat tes mempunyai validitas tinggi jika koefisien korelasinya tinggi pula.

Salah satu cara untuk mencari koefisien validitas alat evaluasi adalah salah satu cara dengan menggunakan rumus korelasi produk momen memakai angka kasar (raw score). Rumusnya adalah:

, Dengan N = banyak subjek (testi)

Nilai rxy ada pada interval -1 ≤ rxy  ≤ 1 (Sudjana, 1982, 354) bila persamaan regresi linier.

Nilai rxy = -1 berarti terdapat hubungan linier sempurna tak langsung

Nilai rxy = 1 berarti terdapat hubungan linier sempurna langsung

Nilai rxy = 0 berarti tidak terdapat hubungan linier

Nilai rxy < 0 disebut mempunyai hubungan negatif (korelasi negatif) . Bisa ditafsirkan mempunyai hubungan berkebalikan yaitu skor (nilai) siswa-siswa yang tinggi pada satu kelompok (misal X) mendapat skor rendah pada kelompok yang lain (misal Y) dan sebaliknnya

Nilai rxy > 0 disebut mempunyai hubungan positif (korelasi positif). Bisa ditafsirkan mempunyai hubungan sejalan yaitu siswa-siswa yang memperoleh skor tinggi pada suatu kelompok ia mendapat skor yang tinggi pada kelompoknya dan sebaliknya.

Interpretasi yang lebih rinci mengenai rxy tersebut dibagi ke dalam kategori-kategori seperti berikut ini  (Guilford, J.P. , 1956 : 145)

0,80 < rxy  ≤ 1,00 korelasi sangat tinggi

0,60 < rxy  ≤ 0,80     korelasi tinggi

0,40 < rxy  ≤ 0,60     korelasi sedang

0,20 < rxy  ≤ 0,40     korelasi rendah

rxy  ≤ 0,20 korelasi sangat rendah

Untuk menentukan tingkat (derajat) validitas alat evaluasi dapat digunakan kriterium diatas.  Dalam hal ini nilai  rxy diartikan sebagai koefisien validitas sehingga kriteriumnya menjadi:

0,80 < rxy  ≤ 1,00 validitas sangat tinggi (sangat baik)

0,60 < rxy  ≤ 0,80     validitas tinggi (baik)

0,40 < rxy  ≤ 0,60     validitas sedang (cukup)

0,20 < rxy  ≤ 0,40     validitas rendah (kurang)

0,00 < rxy  ≤ 0,20     validitas sangat rendah

rxy  ≤ 0,00    tidak valid

Misalkan kita akan menghitung  koefisien validitas tes matematika yang telah diujicobakan dengan menggunkan kriterium nilai rata-rata formatif matematika. Nilai rata-rata harian dijadikan sebagai kriterium (alat pembanding) karena nilai tersebut lebih mencerminkan kemampuan siswa sebenarnya dalam matematika dibandingkan dengan nilai lainnya. Jika diambil nilai matematika siswa sebenarnya dalam rapor, biasanya nilai ini sudah tidak mencerminkan kemampuan matematika siswa sebenarnya karena telah masuk unsur lain yang sifatnya di luar kemampuuan matematika, misalnya pengkatrolan. Selain nila rata-rata harian untuk dijadikan kriterium, dapat juga menggunakan NEM (nilai ebtanas murni) matematika atau hasil tes sumatif dengan asumsi nilai tersebut bisa mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya dalam matematika.

Misalkan nilai rata-rata harian tes matematika adalah X ddan nilai hasil tes yang akan dicari koefisien validitasnya adalah Y. data nilai tersebut jika disusun dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut:

No Siswa X Y
1 Amirul 8,93 91,30
2 Benyamin 8,47 89,92
3 Christino 7,87 80,56
4 Daniel 7,58 79,43
5 Effendi 7,32 75,47
6 Farida 7,03 72,27
7 Gunabakti 6,88 70,59
8 Herman Wiguna 6,54 70,03
9 Iwan Pramono 6,43 69,33
10 Joko Lelono 6,32 66,66
11 Kasno Suryakanta 6,05 62,23
12 Lela Nurlela Kosim 5,49 59,95
13 Momon Kusumaharja 5,35 57,72
14 Nadir Selatan 5,35 43,72
15 Opera Lama 4,24 33,32

Untuk memudahkan proses perhitungan, dapat menggunakan kalkulator ilmiah (scientific calculator) dengan prosedur sebagai berikut:

  1. tekan tombol ON kemudian akan tertera angka 0 pada layar.
  2. sebelum memasukkan data, tekan tombol INV, kemudian kunci AC untuk menghapus semua data yang tersimpan dalam memori kalkulator
  3.  kemudian masukkan data pada kelompok X satu persatu. jika telah tertera angka, misalkan 8.93 ( titik berarti koma) kemudian tekan tombol RUN
  4. lakukan kembali langkah nomor 3 sampai pada data kelompok X ke-15 kemudian diakhiri dengan menekan tombol RUN.
  5. untuk memeriksa banyak data yang dimasukkan, tekan kunci Kout kemudian tekan kunci n yang bersatu dengan kunci untuk angka 3. jika jumlah data yang diinput sesuai dengan jumlah data pada kelompok X, tekanlah kunci Kout dan  kemudian kunci Kout dan
  6. untuk menentukan nilai  ,  lakukan cara yang sama seperti diatas.

Cocokkanlah pekerjaan anda dengan data sebagai berikut:

No Siswa X Y XY
1 Amirul 8,93 91,30 815,3090
2 Benyamin 8,47 89,92 761,6224
3 Christino 7,87 80,56 634,0072
4 Daniel 7,58 79,43 602,0794
5 Effendi 7,32 75,47 552,4404
6 Farida 7,03 72,27 508,0581
7 Gunabakti 6,88 70,59 485,6592
8 Herman Wiguna 6,54 70,03 457,9962
9 Iwan Pramono 6,43 69,33 445,7919
10 Joko Lelono 6,32 66,66 421,2912
11 Kasno Suryakanta 6,05 62,23 376,4915
12 Lela Nurlela Kosim 5,49 59,95 329,1255
13 Momon Kusumaharja 5,35 57,72 308,8020
14 Nadir Selatan 5,35 43,72 231,3340
15 Opera Lama 4,24 33,32 141,2768
JumlahJumlah Kuadrat 99,85687,24 1022,0273054,456 7071,2848

Dari tabel di atas, maka diperoleh data sbb:

X = 99,85 →  X2 = 687,2904

Y = 1022,02  2 = 73054,456

XY = 7071,2848

Nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus:

Proses penggunaan kalkulator untuk menyelesaikan hitungan di atas adalah sebagai berikut.

  1. ON   ,  MODE   ,  99,85  ,  X  ,  1022,02  ,  =  ,  INV  ,   Min    ,   15     ,   X   , 7071,2848  ,  =  ,  –  ,  MR  ,  =
  2. 99,85  ,  X  ,  =  ,   INV  ,  Min  ,  15  ,  X  ,  687,2409  ,  =  ,  –  ,  MR  ,  =
  3. 1022,02  ,  X  ,  =  ,  INV  ,  Min  ,  15  ,  X  ,  73054,455   ,   =   ,   –   ,   MR   ,   =

Dari ketiga langkah a, b , c di atas diperoleh baris kedua di atas. Dari baris dua ke baris ketiga (hasil akhir) bisa dikakukan langkah-langkah berikut ini.

338,591  ,  X  ,  51291,9596  ,  =  ,  √  ,   INV  ,  MIN  ,  4020,575  ,  :  ,  MR  ,  =

Ada lagi cara yang lebih singkat untuk menentukan nilai rxy, yaitu dengan menggunakan kalkulator. Caranya adalah sebagai berikut ini.

  1. Hidupkan kalkulator dengan memijit tombol ON
  2. Hidupkan tanda LR pada monitor dengan memijit MODE R
  3. Tekan INV AC untuk membersihkan memori.
  4. Masukkan data x dan data y sekaligus dengan urutan seperti berikut ini.

xi            xD,yD     yi            RUN

Yaitu   8,95     xD,yD     91,30    RUN

8,47     xD,yD     89,92    RUN

   .

               .

               .

4,24     xD,yD     33,32    RUN

  1. Cek banyaknya pasangan data dengan memijit KOUT  ,
  2. Jika n = 15 teruskan dengan memijit KOUT  INV   r   diperoleh  rxy  = 0,964   774   502

Koefisien validitas yang dibicarakan di muka disebut validitas soal (tes) secara keseluruhan atau validitas perangkat tes. Validita ini berkenaan dengan skor total dari seluruh butir soal yang dikorelasikan dengan kriterium yang dianggap valid, yaitu nilai rerata harian. Jika yang dijadikan kriterium adalah tes yang telah terstandar dengan koefisien validitas 0,76 sedangkan koefisien validitas alat tes yang kita buat dengan kriterium tes terstandar adalah 0,67. Bilangan yang disebut terakhir ini belum merupakan koefisien validitas  alat evaluasi yang dibuat. Koefisien validitas alat evaluasi yang dibuat itu diperoleh dengan mengalikan koefisien validitasnya dengan koefisien validitas tes terstandar itu. Dengan demikian koefisien validitas alat evaluasi yang dibuat itu adalah

0,67 x 0,76 = 0,51

Karena koefisien validitas itu biasanya selalu kurang dari 1,00 dan jarang sekali terjadi yang nilainya mendekati 1,00 atau lebih dari 0,9 maka kita harus berhati-hati dalam menginterpretasikan koefisien validitas alat evaluasi yang kita buat. Koefisien validitasyang diperoleh dari hasil perhitungan cenderung lebih tinggi daripada koefisien validitas sebenarnya, karena nilai koefisien validitas yang dijadikan kriterium selalu kurang dari 1,00.

Dari pembicaraan mengenai validitas suatu perangkat evaluasi (tes) di atas, skor yang dikorelasikan adalah skor total sebagai hasil penjumlahan dari skor untuk setiap butir soal. Skor pada setiap butir soal menyebabkan tinggi rendahnya skor total. Dengan demikian validitas seluruh butir soal dipengaruhi oleh validitas setiap butir soal. Dengan pekataan lain sebuah butir soal memiliki validitas yang tinggi bila ia memiliki kesejajaran atau korelasi positif dengan skor total, sehingga dari validitas suatu perangkat (set) tes dapat diselidiki lebih lanjut butir-butir soal yang mendukung dan yang tidak mendukung. Oleh karena itu untuk mengetahui validitas suatu butir soal bisa dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi skor pada butir soal tersebut dengan skor totalnya.

Berikut ini akan ditinjau untuk soal tes tipe objektif dalam memahami pengertian validitas butir soal di atas. Untuk soal-soal tes tipe objektif skor untuk setiap butir soal biasanya diberi skor 1 jika dijawab benar dan 0 untuk jawaban yang salah. Pemberian skor ini dilakukan jika bobot setiap butir soal (item) sama, sedangkan skor total merupakan jumlah dari skor untuk semua butir soal yang membangun perangkat tes tersebut.

Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh hasil tes matematika tipe objektif yang terdiri dari 12 butir soal dan diikuti oleh 10 orang siswa yang telah tersusun seperti tampak pada table di bawah ini

Tabel

Hasil Tes Matematika Tipe Objektif

No. Subjek Nomor Soal Total
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12
1.2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

AB

C

D

E

F

G

H

I

J

1   1   1   1   1   1   1   1   1   1      0     01   1   1   1   1   0   1   1   1   1      0     0

1   1   1   1   1   0   1   1   0   0      1     1

1   1   1   0   1   0   1   1   0   1      1     0

1   1   1   1   1   1   0   0   1   1      0     0

1   0   1   1   1   0   1   0   0   0      1     1

1   1   1   0   0   1   0   0   1   0      0     0

1   1   0   0   0   0   1   0   0   1      0     0

1   1   0   0   0   1   0   0   0   1      0     0

1   0   1   0   0   1   0   0   0   0      0     0

109

9

8

8

7

5

4

4

3

Jumlah                 10  8   8   5   6   6   5   4   4   6      3     2Jumlah

Kuadrat               10  8   8   5   6   6   5   4   4   6      3     2

67505

Jika rerata nilai harian (yang diasumsikan telah mencerminkan kemampuan siswa sebenarnya dalam matematika) setiap siswa berturut-turut adalah 9, 9, 8, 7, 7, 6, 6, 6, 5, 4 tentukan validitas tes tersebut dan tentukan pula validitas butir soal nomor 1, 5, dan 6

Untuk menghitung koefisien validitas soal secara keseluruhan, gunakan salah satu cara seperti yangtelah dikemukakan terdahulu. Dengan menggunakan rumus korelasi angka dasar diperoleh koefisien validitasnya adalah rxy = 0,93. Silakan anda memeriksanya.

Untuk menghitung koefisien validitas butir-butir soal nomor 1, 5, dan 6 skor masing-masing butir soal itu kita sebut variabel X dan skor total kita sebut dengan variabel Y.

Faktor-faktor yang mempengaruhi validitas

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil suatu evaluasi sehingga menjadi bisa menyimpang dari keadaan yang sebenarnya untuk suatu penggunaan yang dimaksudkan. Beberapa diantaranya dari alat evaluasi itu sendiri.

Dalam hubungan pelajaran kegiatan belajar mengajar matematika, faktor – faktor berikut ini dapat mengurangi fungsi pokok uji sesuai dengan yang diharapkan sehingga bisa merendahkan validitas alat evaluasi tersebut.

  1. Petunjuk yang tidak jelas

Petunjuk yang tidak jelas tentang hal –hal yang dilakukan oleh peserta ujian (testi) cenderung akan mengurangi validitas

2.  Perbendaharaan kata dan struktur kalimat yang sukar

Terlalu banyak menggunakan kata –kata yang kurang dikenal dan struktur kaliamat yang berbelat belit akan lebih mengukur kemempuan berbahasa atau aspek intelegensi daripada tingkah laku murid (testi) dalamaspek tertentu.

3.   Penyusunan soal yang kurang

Terutama dalam penyajian soal tipe objektif, seringkalikalimat yang disajikan memberi petunjuk pada jawaban yang benar atau tidak benar

4.   Kekaburan

Pernyataan yang kurang jelas maknanya atau bisa ditafsirkan dengan makna lain dapat membingungkan peserta tes, sehingga ia menjawab salah bukan karena ketidak jelasan soal tersebut.

5.   Derajat kesukaran soal yang tidak cocok

Penyajian soal – soal yang susah sangat sukar akan mengakibatkan hasil yang jelek bagi kebanyakan atau bahkan semua peserta tes, sebaiknya penyajian soal yang sangat mudah semua peserta tes atau kebanyakan mendapat nilai baik. Hal ini tidak bisa membedakan kemampuan siswa yang satu dengan yang lainnya.

6.   Materi tes tidak representative

Jika kita menyajikan soal tes sedikit maka materi yang tersajikan dalam tes itu tidak akan mewakili bahan pelajaran yang telah disajikan dan dipelajari siswa, sehingga faktor keberuntungan akan berperan.

7.   Pengaturan soal yang kurang tepat

Penyajian soal hendaknya disusun dari yang mudah menuju pada soal- soal yang sukar.

8.   Pola jawaban yang dapat diindentifikasi

Penempatan jawaban dalam tibe objektif menurut pola tertentu akan mendorong siswa untuk menebak jawaban,sehingga konsep dalam soal tidak dipikirkan lagi.

Sumber :

Kuliah evaluasi pembelajaran prodi matematika unmas denpasar th 2012

Modul evaluasi pembelajaran program penyetaraan D-III Guru Sekolah Menengah Pertama

About Partha

Seseorang yang ingin berbagi

Discussion

No comments yet.

Gunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung unsur SARA

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Talk with me!

DAFTAR ISI

Partha31 E-learning

Iklan

Wirausaha Mobil Bekas
Pasang Iklan Rumah Kontak Jodoh

  • 54,875 visitor
Blog Guru Topsites List All Science Sites Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: